Pasuruan, Pagiterkini.com – Keluhan warga Dusun Purwodadi, Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, terhadap dugaan dampak limbah PT Etika Dairies Indonesia kian memanas. Warga menyoroti dugaan aliran limbah menuju saluran sungai serta kondisi air sumur yang diklaim tidak lagi dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
PT Etika Dairies Indonesia diketahui berlokasi di Dusun Gesing, Desa Randupitu. Warga meminta perusahaan tidak mengabaikan persoalan yang mereka nilai telah berdampak terhadap lingkungan dan kebutuhan air masyarakat.
Ketua RT setempat, Suryo Rinto mengatakan, aliran limbah dari perusahaan diduga mengarah ke saluran sungai di sekitar area persawahan warga. Ia juga menyoroti keberadaan pipa yang menurutnya memiliki percabangan.
“Misalkan distop jalannya limbah, limbah tersebut tetap mengalir ke sungai, karena ada percabangan pipanya. Sehingga limbah tetap mengalir,” ujar Rinto saat ditemui di lokasi, Selasa (18/8/2026).
Ketua RW setempat, Subhan, mengatakan keluhan warga bukan persoalan baru. Ia menuturkan, bau yang muncul dinilai menyengat, sementara kondisi air sumur warga juga mengalami perubahan.
“Ya jelas warga geram Mas. Baunya kecut, hingga sumur warga juga tak bisa dibuat konsumsi,” katanya.
Ketua Pemuda Dusun Purwodadi, Budi, menjelaskan sekitar 25 rumah diduga terdampak persoalan tersebut. Menurutnya, warga kini harus membeli air dari luar karena air sumur tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun konsumsi.
“Kami bersama warga memperjuangkan penyelesaian dampak perusahaan. Saat ini, sekitar 25 rumah di Dusun Purwodadi terdampak, karena air sumurnya tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Budi.
Ia mengatakan, persoalan tersebut telah beberapa kali dimediasi dengan pihak perusahaan. Namun, menurutnya, mediasi yang dilakukan berulang kali belum membuahkan penyelesaian.
“Mediasi sudah bolak-balik, tetapi selalu gagal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan warga kini mengajukan lima tuntutan. Pertama, meminta penyediaan sumur bor bagi warga terdampak. Kedua, pipanisasi. Ketiga, pengurasan sumur warga terdampak. Keempat, pembersihan sungai secara berkala setiap enam bulan sekali. Kelima, perekrutan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Warga juga mulai mempertegas sikap. Jika tuntutan tersebut tidak mendapatkan respons, mereka menyatakan siap menggelar aksi di depan PT Etika Dairies Indonesia.
“Kami bersama warga sekitar akan melakukan aksi jika nantinya sudah buntu. Yang jelas, warga menuntut terkait dampak lingkungan ini kepada perusahaan tersebut,” tegas Budi di lokasi saluran yang diduga menjadi jalur pembuangan limbah.
Ia menambahkan, warga meminta pemeriksaan kualitas limbah yang dibuang ke saluran sungai serta pemeriksaan air sumur warga. Langkah tersebut dinilai penting agar kondisi lingkungan dan penyebab perubahan kualitas air dapat diketahui secara objektif.
Sejumlah warga bersama Ketua Pemuda juga mendatangi lokasi yang mereka duga menjadi jalur pembuangan limbah. Mereka membawa poster berisi tuntutan, di antaranya bertuliskan “Stop Buang Limbah ke Sungai” dan “Limbahmu Merusak Lingkunganku”.
PT Etika Dairies Indonesia diketahui merupakan bagian dari Etika Group Indonesia yang bergerak dalam produksi berbagai produk krimer dan produk non-susu.
Hingga berita ini ditulis, pihak PT Etika Dairies Indonesia belum memberikan keterangan terkait keluhan dan tuntutan warga. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi serta meminta klarifikasi kepada pihak perusahaan. (Mal)















Tinggalkan Balasan