Pasuruan, Pagiterkini.com – Selama bertahun-tahun, air bersih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi bagi warga Dusun Purwodadi, Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Sedikitnya 32 kepala keluarga (KK) yang tinggal di sekitar aliran sungai mengaku tidak lagi dapat mengandalkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut menurut warga telah berlangsung kurang lebih 10 tahun.

Air sumur yang biasanya menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga mengalami perubahan. Warga mengklaim air terkadang berwarna kuning, hitam hingga putih, disertai bau yang tidak sedap. Bahkan, sebagian warga mengaku merasakan gatal ketika air tersebut digunakan untuk keperluan mandi.

Kondisi itu membuat warga harus mencari alternatif. Sebagian memilih membeli air bersih, sementara lainnya mengandalkan bantuan atau meminta air kepada tetangga. Pengeluaran tambahan pun tak terhindarkan karena kebutuhan air merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda.

Kondisi tersebut terlihat pada Jumat (28/8/2026) sore. Satu tangki bantuan air bersih dari Karang Taruna setempat tiba di Dusun Purwodadi. Puluhan warga langsung berdatangan membawa galon dan berbagai wadah untuk mengantri mendapatkan air.

Tutik, salah satu warga mengatakan, air sumur di rumahnya sudah tidak dapat digunakan untuk memasak. Ia mengaku harus membeli air bersih atau meminta kepada tetangga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Air sumur di tempat saya itu kotor mas, jadi dibuat memasak tidak bisa. Sehingga, saya beli air bersih kalau tidak meminta kepada tetangga,” ujar Tutik setelah mengambil air dari tangki bantuan.

Menurut Tutik, dirinya tidak mengetahui secara pasti penyebab kondisi air sumur tersebut. Namun, ia menyebut persoalan sama lebih banyak dirasakan warga yang rumahnya berdekatan dengan aliran sungai.

Keluhan sama disampaikan Ketua RW Dusun Purwodadi, Subhan. Ia menyebut terdapat sekitar 32 KK yang mengalami persoalan air sumur. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar satu dekade.

“Air sumurnya itu dibuat mandi tidak bisa, kalau kena kulit itu gatal-gatal mas,” kata Subhan.

Sementara itu, Budi, ketua pemuda setempat, menduga persoalan tersebut berkaitan dengan aliran limbah yang masuk ke sungai. Ia mengaku bersama warga telah menelusuri aliran sungai dan menemukan pipa yang diduga mengeluarkan air berwarna hitam hingga putih. Warga juga mengaku menemukan bekas seperti kerak atau lendir di sekitar aliran tersebut.

Dugaan itu kemudian mendorong warga untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Mereka berencana menggelar aksi penyampaian pendapat di depan PT Etika Dairies Indonesia, Dusun Gesing, Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, pada 1 September 2026.

Aksi tersebut rencananya dilakukan untuk menyampaikan keluhan warga terkait dugaan pencemaran lingkungan yang dinilai berdampak terhadap kualitas air sumur. Warga berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dan penanganan dari pihak terkait.

Hingga berita ini ditayangkan, Pagiterkini.com masih berupaya memperoleh konfirmasi dan klarifikasi dari pihak PT Etika Dairies Indonesia terkait dugaan pencemaran serta keluhan warga Dusun Purwodadi. (Mal)