Pasuruan, Pagiterkini.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dusun Kemiri, Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, kembali dipertanyakan, Rabu (19/08).
Kondisi dapur pengolahan yang diklaim kotor dan tidak higienis, disertai keluhan terhadap makanan yang dibagikan, memunculkan dugaan adanya kelalaian dalam menjaga standar kebersihan dan keamanan pangan.
Keluhan tersebut disampaikan warga kepada redaksi dengan menyertakan foto dan video yang memperlihatkan kondisi dapur serta makanan yang akan dibagikan kepada penerima manfaat. Salah satu warga bahkan mengaku menemukan sayuran yang diduga terdapat belatung kecil atau serangga sejenis.
“Di sayurnya sering ada belatung kecil dan di dalam dapurnya itu kotor, tidak standar, tidak higienis dan kumuh,” ujar salah satu warga.
Menurutnya, keluhan tersebut bukan hanya datang dari satu orang. Sejumlah penerima manfaat juga mengeluhkan kualitas makanan, mulai dari makanan yang berbau, diduga basi, hingga menu yang dinilai tidak layak.
“Banyak di sejumlah sekolah wilayah Beji yang komplain terkait menu MBG ini. Bukan hanya bau dan basi. Mulai PAUD, TK, SD, SMA, kaum ibu hamil dan usia lanjut di dalam kampung ini mengeluhkan menu tersebut,” imbuhnya.
Ia menilai persoalan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai keluhan biasa. Sebab, makanan tersebut dikonsumsi anak-anak serta penerima manfaat lainnya sehingga kebersihan dan kualitas makanan semestinya menjadi prioritas utama.
Keluhan lainnya juga menyangkut buah yang dinilai kurang layak serta lauk ikan yang diklaim berukuran terlalu kecil. Kondisi tersebut membuat warga mempertanyakan pengawasan terhadap kualitas menu maupun proses pengolahan makanan.
Warga berharap pihak berwenang tidak hanya menerima laporan, tetapi turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kondisi dapur dan makanan yang diproduksi.
Sementara itu, pihak internal pengelola MBG membantah adanya unsur kesengajaan. Ia menjelaskan, kondisi dapur yang terlihat kotor salah satunya terjadi akibat aktivitas memasak, termasuk saat mengupas bahan makanan.
Ia mengatakan, setelah seluruh aktivitas memasak selesai, dapur tetap dibersihkan. Terkait kondisi lantai, pihak internal mengakui terdapat bagian yang rusak sehingga pasir dari bawah lantai keluar dan membuat area terlihat kotor.
“Memang rusak lantainya. Dari internal hingga saat ini belum diperbaiki. Kalau mau dibenahi, nunggu Sabtu dan Minggu karena dua hari ini liburnya,” jelasnya.
Pihak internal menyebut operasional MBG tersebut telah berjalan sekitar tujuh bulan. Menurutnya, sejauh ini belum ada komplain terkait menu yang disajikan. Kendati demikian, pihak pengelola mengaku akan menjadikan temuan dan keluhan tersebut sebagai bahan evaluasi.
Lebih lanjut, pihak internal meminta agar persoalan tersebut tidak langsung diberitakan karena khawatir menjadi konsumsi publik dan berdampak terhadap puluhan pekerja yang merupakan warga sekitar.
“Saya kasihan kepada para karyawan Pak, kalau sampai terjadi apa-apa dengan dapur ini. Semua yang bekerja di sini merupakan warga sekitar. Jumlah karyawannya kurang lebih 46 orang Pak,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono sebelumnya telah memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak mengabaikan standar keamanan pangan menyusul sejumlah insiden dugaan keracunan setelah konsumsi menu MBG.
Sudaryono menegaskan, keselamatan penerima manfaat, khususnya anak-anak, harus menjadi prioritas. Pengelola yang tidak mampu memenuhi standar keamanan pangan diminta bertanggung jawab.
“Jangan nyawa orang jadi permainan,” tegas Sudaryono.
Keluhan warga tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut kualitas makanan, kebersihan tempat pengolahan, serta dugaan kelalaian dalam penerapan standar keamanan pangan.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan verifikasi dan pemeriksaan secara objektif untuk memastikan makanan yang dibagikan benar-benar aman dan memenuhi ketentuan. (Mal)















Tinggalkan Balasan