PASURUAN, PagiterKini.Com – Ribuan warga Tretes Raya, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, turun ke jalan pada Minggu (29/03/2026), sebagai bentuk penolakan keras terhadap rencana alih fungsi kawasan hutan di lereng Gunung Arjuno yang direncanakan menjadi proyek real estate oleh investor.
Bagi warga, kawasan hutan tersebut bukan sekedar lahan kosong. Ia adalah benteng terakhir resapan air yang selama ini menjaga keselamatan wilayah hilir dari ancaman banjir dan longsor.
Salah satu peserta aksi, Hariadi, menegaskan bahwa masyarakat tidak akan mundur sedikit pun menghadapi rencana pembangunan tersebut.
“Kami sepakat menolak keras pembangunan real estate ini. Pemerintah Kabupaten Pasuruan jangan hanya ‘jegidek’. Jangan hanya memikirkan kepentingan tertentu tanpa melihat dampak besar ke masyarakat,” tegasnya di tengah aksi.
Menurutnya, ancaman bencana bukan sekedar kekhawatiran. Warga bahkan mulai merasakan tanda-tanda dampak lingkungan dalam waktu terakhir.
“Dampaknya sudah mulai terasa. Beberapa waktu lalu banjir sempat terjadi sampai akses jalan harus ditutup dan dialihkan. Itu peringatan serius bagi kami semua,” ujarnya.
Ia memastikan, sikap penolakan warga bukan gerakan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang untuk mempertahankan kawasan hutan sebagai penyangga keselamatan lingkungan.
“Sampai kapan pun kami akan tetap berdiri menolak rencana pembangunan ini, apa pun risikonya,” tambahnya, sambil mengacungkan tangan.
Di tengah massa aksi, kehadiran Ketua Pansus DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiyanto, menjadi perhatian warga. Kehadirannya dinilai sebagai sinyal bahwa aspirasi masyarakat mulai mendapat ruang serius di lembaga legislatif.
Di hadapan ribuan warga, Sugiyanto menegaskan pihaknya hadir langsung untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait rencana alih fungsi kawasan hutan yang selama ini berfungsi sebagai benteng terakhir resapan air di wilayah Prigen dan sekitarnya.
Ia mengungkapkan, Panitia Khusus DPRD telah bekerja hampir enam bulan sejak dibentuk pada Oktober lalu. Sejumlah pihak telah dimintai keterangan, mulai dari Perhutani hingga pemerintah kecamatan, termasuk penelusuran lokasi tanah pengganti di luar daerah.
“Kami berkomitmen tidak akan memberi ruang bagi investor mencaplok wilayah kita,” tegasnya yang langsung disambut sorak dukungan warga.
Sugiyanto juga mengungkapkan bahwa rencana tukar-menukar kawasan hutan tersebut sebenarnya telah berjalan cukup lama tanpa diketahui masyarakat luas. Namun gerakan bersama antara warga dan DPRD mulai menunjukkan perkembangan positif.
Ia memastikan rencana pembangunan real estate sebelumnya telah dibatalkan. Meski demikian, potensi pembangunan resort dan kawasan wisata terpadu masih menjadi perhatian serius karena berpotensi membuka kembali ancaman terhadap kawasan hutan.
“Insya Allah akhir April rekomendasi resmi Pansus akan kami keluarkan sebagai tindak lanjut aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Sejumlah warga yang hadir dalam aksi menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua Pansus DPRD di tengah demonstrasi. Mereka berharap komitmen tersebut tidak berhenti pada pernyataan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam keputusan politik yang melindungi kawasan hutan.
“Kami berharap DPRD konsisten bersama rakyat. Hutan ini benteng terakhir kami dari ancaman banjir dan longsor,” ujar salah satu peserta aksi. (Mal)













Tinggalkan Balasan