Baca Juga:

Pasuruan, Pagiterkini.com – Aroma busuk dugaan permainan kotor dalam tubuh aparat kembali menyeruak di Pandaan. Penggerebekan perjudian capjiki di sebuah gudang kosong, Desa Tunggulwulung, Selasa (9/9) dini hari, kini berubah jadi polemik besar.

Warga menyebut jelas ada 9 orang yang diamankan, termasuk pemilik lokasi. Namun aneh bin ajaib, ketika sampai di Polsek Pandaan, jumlah itu menyusut jadi hanya 8 orang tersangka.

“Loh, yang satu ke mana? Padahal jelas-jelas dibawa keluar juga. Jangan-jangan dia itu ‘SP’-nya polisi Polsek Pandaan. Kalau benar begitu, busuk sekali mainnya!” tegas seorang warga geram, Kamis (11/9).

Baca Juga :
Dari Wilayah 3T hingga Hilirisasi Sampah, Kapolri Paparkan Agenda Polri 2026

Kecurigaan warga makin tajam, operasi itu diduga cuma jadi pencitraan murahan untuk target Operasi Tumpas. Lebih parah lagi, ada kesan tebang pilih: sebagian ditangkap, sebagian lain dilepas.

“Kalau memang serius mau bersihkan perjudian, tangkap semua dong! Jangan hukum seolah bisa ditawar. Jangan sampai aparat justru jadi pelindung pemain tertentu. Ini penghinaan terhadap rasa keadilan masyarakat!” sambungnya dengan nada meledak-ledak.

Ironisnya, saat dikonfirmasi soal hilangnya satu orang tersangka, Kanit Reskrim Polsek Pandaan Aiptu Fery Candra memilih bungkam seribu bahasa. Pesan WhatsApp terkirim centang dua, tapi tak kunjung dibalas. Diamnya polisi ini justru membuat kemarahan warga kian memuncak.

Baca Juga :
AMI Ultimatum Kanwil PAS Jatim, Reformasi atau Gelombang Aksi!

Kini, masyarakat menuntut transparansi penuh dan mendesak aparat diusut tuntas. Jangan sampai ada permainan kotor yang membuat hukum di negeri ini semakin kehilangan wibawa.

(Akbar/mal/kuh)