SURABAYA, Pagiterkini.com – Duka mendalam menyelimuti seorang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) berinisial IW (40), yang mengajar di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya.

IW diduga menjadi korban pelecehan seksual dan perundungan (bullying) oleh sesama guru serta staf tata usaha di sekolah tempatnya mengabdi. Peristiwa itu meninggalkan luka psikis yang dalam, hingga akhirnya ia memilih mundur dari sekolah demi keselamatan mentalnya.

Dalam kesaksiannya, IW mengungkap bahwa pelaku dugaan pelecehan bukan dari lawan jenis, melainkan sesama jenis. Ia mengaku kerap dilecehkan secara fisik, dikirimi video serta stiker porno melalui WhatsApp, bahkan diraba bagian tubuh sensitifnya di ruang guru.

“Kejadiannya sering. Tangannya sempat memegang payudaraku. Aku diam, tapi lama-lama terus begitu. Hampir dua minggu dibegitukan. Akhirnya aku lawan karena risih,” ungkap IW dengan suara tegas, Jumat (17/10/2025).

Tak berhenti di situ, staf tata usaha berinisial R disebut sering mengiriminya video cabul, memfoto dirinya saat tertidur, bahkan mengambil ponselnya secara diam-diam untuk mengirim pesan yang menjelekkan nama IW di grup rekan kerja.

“Saya malu, saya tertekan. Setiap hari seperti dipermainkan,” ucapnya.

Baca Juga :

Trauma yang terus menumpuk membuat IW akhirnya menyerahkan surat pengunduran diri pada Sabtu, 11 Oktober 2025, setelah 2,5 tahun mengajar. Ia mengirimkan surat itu melalui WhatsApp kepada kepala sekolah karena tak sanggup kembali menjejakkan kaki di sekolah tersebut.

“Saya takut datang lagi ke sana,” katanya.

Lebih parah lagi, setelah perundungan itu, IW justru mendapat teror pesan cabul dan ajakan BO (Booking Order) dari nomor-nomor tak dikenal.

“Banyak yang ngajak BO, kayak nomor 08233865095x, 08577129740x, dan 08573112438x. Saya blokir semua, tapi masih ada lagi yang kirim pesan serupa. Saya makin takut karena dikira PSK,” ujarnya dengan nada gemetar.

Baca Juga:

Tak hanya pelecehan dan teror, IW juga mengaku diancam melalui pesan WhatsApp oleh seseorang bernama Khoirul Arnavat, yang mengaku sebagai anggota Polri.

“Sampean kalau macam-macam ke istriku tak panggil ke Polda nanti. Akan aku cari sampai ketemu kamu nanti,” demikian bunyi ancaman yang diterima IW.

Merasa nyawanya terancam, IW akhirnya meminta perlindungan hukum kepada Kantor Hukum Dodik Firmansyah & Partners di Jalan Peneleh No.128, Surabaya.

Sementara itu, Kepala Sekolah berinisial Gz membenarkan bahwa IW telah mengundurkan diri, namun membantah adanya dugaan pelecehan maupun perundungan di lingkungan sekolah.

Baca Juga:
Buka Puasa Bersama Jadi Penguat Spiritual dan Mental Pasien Rehab Nawasena

“Ibu IW pamit resign tanpa alasan. Kami sudah mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi beliau tidak datang. Tidak ada pelecehan,” ujar Gz saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Namun, seorang perempuan yang mengaku istri Gz justru meminta agar kasus ini tidak diberitakan di media.

“Ngapain harus ada pemberitaan? Ini masalah internal, kekeluargaan saja,” ucapnya dengan nada tinggi.

Kuasa hukum IW, Dodik Firmansyah, menegaskan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Unit PPA Polrestabes Surabaya dan Komnas Perempuan untuk mendapatkan pendampingan psikologis dan perlindungan hukum.

“Klien kami mengalami tekanan psikis yang berat dan ketakutan luar biasa. Kami pastikan hak hukumnya akan kami kawal hingga tuntas,” tegas Dodik dengan nada mantap.

(mal/tim/kuh)