PASURUAN, PAGITERKINI.COM – Dugaan manipulasi absensi yang melibatkan seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Puskesmas Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, memantik kecaman keras dari kalangan lembaga swadaya masyarakat. Praktek tersebut dinilai mencederai etika profesi tenaga kesehatan sekaligus berpotensi merugikan masyarakat sebagai penerima layanan.
Ketua LSM Gajahmada Nusantara, Misbahkhul Munir, menegaskan bahwa jika dugaan itu terbukti, maka persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai kesalahan administratif semata.
“Tenaga kesehatan digaji dari uang rakyat untuk melayani publik, bukan untuk memanipulasi sistem kehadiran. Kalau ini benar, maka ini bukan pelanggaran ringan, ini pengkhianatan terhadap pasien, negara, dan sumpah profesi,” ujar Misbah, Sabtu (24/1).
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan internal di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan. “Absensi fiktif tidak mungkin berlangsung berulang tanpa ada kelonggaran sistem atau pembiaran. Kalau sudah ditegur tetapi tetap terjadi, berarti ada masalah serius dalam pengawasan. Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah jangan berpura-pura tidak tahu,” tegasnya.
Pria bertubuh tekkel itu mendesak dilakukan investigasi menyeluruh, termasuk audit digital terhadap rekam kehadiran pegawai serta evaluasi pimpinan unit kerja. “Jangan menunggu kemarahan publik membesar baru bergerak. Ini soal hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak dan berintegritas,” katanya.
Informasi yang dihimpun Pagiterkini.com menyebutkan, seorang PPPK perempuan berinisial SL yang bertugas di Puskesmas Wonorejo diduga kerap melakukan absensi melalui aplikasi TPP Mobile, namun setelah itu meninggalkan tempat kerja tanpa alasan yang jelas.
Dalam sepekan terakhir, SL disebut-sebut melakukan praktik tersebut selama tiga hari, yakni pada Senin, Rabu, dan Jumat. “Absen pagi lalu pergi. Hampir setiap minggu tiga kali. Kadang Senin, Rabu, Jumat, kadang Jumat diganti Sabtu,” ungkap sumber internal kepada Pagiterkini.com, Kamis (22/1).
Menurut sumber tersebut, tindakan itu berdampak langsung terhadap kelancaran pelayanan pasien. Dugaan yang sama juga disebutkan pernah terjadi sebelumnya, meski yang bersangkutan dikabarkan telah menerima teguran.
Alasan yang kerap disampaikan SL, berkaitan dengan kondisi anaknya yang sakit. Namun, sumber mempertanyakan pola tersebut. “Kalau memang izin resmi, mestinya tidak melakukan absensi. Ini justru tetap tercatat hadir, padahal tidak menjalankan tugas,” ujarnya.
Kasus ini turut menuai reaksi publik setelah diunggah melalui akun TikTok @tiktokpagiterkinicom. Kolom komentar dipenuhi kritik terhadap kualitas pelayanan serta tuntutan sanksi tegas.
Akun @YudieDjaloe meminta pihak puskesmas membuka ruang aspirasi masyarakat. Bahkan, akun tersebut menandai @inspektorat.kabpas seraya meminta agar pihak terkait segera bertindak.
Sementara @TatangSpr menilai manipulasi absensi seharusnya berujung pada tindakan keras. “Kalau memanipulasi absen ya harus dipecat. Lapor Bupati pasti langsung direspons,” tulisnya.
Keluhan pelayanan juga datang dari akun @SitiNuraeni. “Pelayanannya kurang memuaskan menurut saya.”
Akun @AnisAprilia bahkan membandingkan dengan fasilitas kesehatan lain. “Saya pernah mengalami. Tidak seperti RS Sukorejo Prima Husada, pelayanannya lebih baik, petugasnya ramah.”
Komentar bernada korektif juga muncul dari @TeamSengkuniOfficial, yang meminta seluruh pegawai Puskesmas Wonorejo meningkatkan profesionalisme dalam melayani warga.
Sementara akun @OCHI menyebut bahwa reputasi pelayanan Puskesmas Wonorejo telah lama menjadi bahan perbincangan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan untuk kedua kalinya, Kepala Puskesmas Wonorejo, dr. Annisa, belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi Pagiterkini.com. Hingga kini, pihak yang bersangkutan juga belum berhasil dihubungi. (MaL/One)











Tinggalkan Balasan