Baca Juga:
Heboh Razia Warem Tanpa Surat Perintah, Kasatpol PP Pasuruan Buka Suara

Sidoarjo, PagiterKini.Com – Amarah warga Desa Pepe, Kwangsan, Kecamatan Sedati, kian memuncak. Praktik perjudian sabung ayam yang sempat ditutup, kini justru kembali menggila. Ironisnya, aktivitas haram itu berlangsung terang-terangan tanpa rasa takut seolah tak tersentuh hukum.

Informasi yang dihimpun PagiterKini.Com, arena sabung ayam kembali ramai pada Minggu (15/02/2026). Taruhan mencapai jutaan rupiah. Dalam sehari, bisa terjadi hingga lima kali tarung dengan nilai taruhan sekitar Rp3 juta. Bahkan, pengunjung yang membawa kendaraan dikenai tarif parkir sekitar Rp10 ribu.

Warga menilai situasi ini bukan lagi sekedar pelanggaran biasa, melainkan bentuk pembiaran yang memalukan. Aktivitas perjudian diduga berjalan terbuka, tanpa ada upaya serius untuk menghentikan.

Baca Juga :
Tiga Kecamatan di Pasuruan Terendam Banjir Usai Hujan Intensitas Tinggi

Kecurigaan publik makin liar setelah beredar isu dugaan keterlibatan oknum aparat. Isu ini menyebar cepat dan memantik keresahan di tengah masyarakat.

“Katanya milik oknum Polda. Itu hanya informasi dan belum pasti, tapi kalau berani seterang ini, warga pasti bertanya-tanya,” ujar warga.

Nada kekecewaan masyarakat kian tajam. Mereka menilai aparat bukan tidak tahu, melainkan diduga pura-pura tidak tahu. Dugaan pembiaran pun mulai dilontarkan secara terbuka.

Baca Juga :

“Setiap hari ramai, tapi tidak ada tindakan. Wajar kalau masyarakat curiga. Jangan sampai aparat dianggap pura-pura buta,” celetuk warga.

Kritik pedas kembali dilontarkan oleh praktisi hukum muda, Yoga Septian Widodo. Ia menilai fenomena ini bukan persoalan sepele, apalagi jika praktik perjudian berlangsung berulang dan terkesan dibiarkan.

Menurut Yoga, mustahil aparat tidak mengetahui aktivitas yang berlangsung terbuka dengan keramaian dan perputaran uang besar. Ia bahkan menyinggung dugaan pembiaran sistematis.

“Kalau judi berjalan terbuka, ramai, ada parkiran, ada taruhan besar, lalu aparat seolah tidak tahu, publik berhak curiga. Ini bukan soal tahu atau tidak, tapi soal keberanian bertindak,” tegas Yoga.

Baca Juga:
Tebusan Rp6 Juta Bikin Geger, Yoga Singgung Dugaan Peran Oknum Desa

Yoga juga menyentil keras jajaran Polsek Sedati hingga Polresta Sidoarjo. Ia menilai maraknya perjudian adalah alarm keras lemahnya pengawasan.

“Kapolsek Sedati dan Polresta Sidoarjo harus menjawab ini. Jangan sampai publik menilai hukum hanya tajam ke bawah. Penegakan hukum tidak boleh setengah hati,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, Yoga turut menyindir keras kinerja pimpinan wilayah yang dinilai lebih sibuk tampil di pemberitaan ketimbang menunjukkan tindakan nyata di lapangan.

“Jangan cuma ramai di berita, tapi nihil penindakan. Kalau masyarakat terus resah, berarti ada yang gagal dalam pengawasan,” sindirnya.

Baca Juga:

Melihat situasi yang dinilai makin liar, Yoga mendesak atensi serius dari level yang lebih tinggi. Ia meminta pengawasan ketat untuk mengusut dugaan keterlibatan oknum jika benar ada. “Kalau ada indikasi oknum, harus diusut tuntas. Jangan biarkan kepercayaan publik hancur karena pembiaran. Ini menyangkut marwah institusi,” tegasnya.

Di tingkat akar rumput, kemarahan warga sudah di titik didih. Informasi yang beredar menyebut, sejumlah pemuda mulai menyiapkan aksi demonstrasi sebagai bentuk tekanan moral terhadap aparat.

Aksi tersebut dirancang sebagai bentuk protes atas dugaan pembiaran praktik perjudian di wilayah hukum Sedati. Warga mendesak langkah nyata dan transparan agar kepercayaan publik tidak semakin runtuh.

Sementara itu, Kepala Desa Pepe, Moh. Yasir saat dikonfirmasi PagiterKini.Com pada Selasa (16/02/2026), menegaskan bahwa pemerintah desa menolak keras keberadaan aktivitas perjudian tersebut.

Ia mengklaim pihak desa telah berkoordinasi dengan Polsek, Koramil, serta Kecamatan Sedati untuk menyikapi persoalan tersebut.

“Waalaikum salam, nggeh Bapak. Kami sudah koordinasi dengan Polsek, Koramil, dan Kecamatan Sedati. Untuk Pemdes Pepe, tidak mengizinkan adanya kegiatan tersebut,” tegasnya.

Namun, di tengah bantahan itu, satu pertanyaan besar masih menggantung di benak warga, jika semua mengaku sudah tahu dan berkoordinasi, mengapa perjudian masih tetap hidup dan beroperasi terang-terangan? (Mal/Red)