PASURUAN, PAGITERKINI.COM – Suasana hangat namun penuh makna tersaji di Warkop Edelweis, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, saat sejumlah tokoh LSM Pasuruan Raya, awak media, dan praktisi hukum muda Yoga Septian Widodo berkumpul dalam agenda ngopi santai, Selasa (19/8).

Ngopi bareng ini tidak sekedar melepas penat, melainkan menjadi ruang diskusi serius. Ide dan pengalaman lapangan dipertukarkan, mulai dari peran kontrol sosial, tantangan advokasi, hingga dinamika arus informasi di masyarakat.

Ngopi santai di warkop Edelweis Purwosari.

Praktisi hukum muda, Yoga Septian Widodo, S.H,. menegaskan pentingnya kolaborasi antara penegak hukum, media, dan masyarakat sipil agar tidak terjadi jurang informasi.

Baca Juga :

“Situasi di lapangan sering berbeda dengan teori. Karena itu, komunikasi dan saling menguatkan adalah kunci,” tegas Yoga, sapaan akrabnya.

Sementara itu, Ketua LSM Gajahmada, Misbahul Munir, menekankan keberanian untuk tetap menyuarakan kebenaran meski berhadapan dengan tekanan.

“Tugas LSM adalah mengawal kepentingan masyarakat. Kita harus berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan yang lain,” tandasnya.

Senada dengan itu, Gus Ujay mendorong agar ruang-ruang diskusi seperti ini digelar lebih rutin, sehingga tidak berhenti sebatas obrolan di warkop, tetapi berlanjut menjadi gerakan nyata untuk perbaikan sosial di Pasuruan.

Di sisi lain, Imam Rusdian, Ketua LSM Cakra Berdaulat, yang dikenal getol menyuarakan kritik terhadap pemerintahan di Kabupaten Pasuruan, menambahkan bahwa fungsi kontrol publik tidak boleh dilemahkan.

“Pemerintah daerah harus terbuka terhadap kritik. Jangan sampai suara masyarakat dipandang sebagai gangguan. Justru kritik adalah vitamin untuk memperbaiki kinerja birokrasi,” ujarnya.

Pertemuan sederhana di meja kopi ini membuktikan, gagasan besar bisa lahir dari ruang santai. Kerja di lapangan, kata mereka, menuntut lebih dari sekedar teori, dibutuhkan keberanian, solidaritas, dan sikap kritis untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Baca Juga:

(mal/kuh)